Selasa, 13 Mei 2025

POPULASI DAN SAMPEL DALAM PENELITIAN KUANTITATIF

 MATERI 9- METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF

Oleh: Eny Latifah,S.E.Sy.,M.Ak


Populasi dan Sampel dalam Penelitian Kuantitatif

 

A.    Pengertian Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek atau subjek yang menjadi sasaran penelitian. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili karakteristik populasi.

Populasi adalah keseluruhan subjek atau objek yang memiliki karakteristik tertentu yang ingin diteliti, sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili karakteristik populasi tersebut. 

Menurut Sugiyono (2014), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang memiliki karakteristik tertentu, sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi itu. 

Handayani (2020), Populasi adalah totalitas dari setiap elemen yang akan diteliti yang memiliki ciri sama, bisa berupa individu dari suatu kelompok, peristiwa, atau sesuatu yang akan diteliti. 

Arikunto (2019) menjelaskan bahwa yang dinamakan Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. 

Sedangkan Margono (2017) mendefinisikan Populasi adalah keseluruhan yang menjadi pusat perhatian seorang peneliti dalam ruang lingkup dan waktu yang ditentukan. 

Menurut Wicaksono (2022), Populasi adalah kelompok yang menarik bagi peneliti, kelompok kepada siapa peneliti ingin menggeneralisasi hasil penelitian.

Populasi dapat dikatakan  Merupakan seluruh kelompok atau unit yang menjadi fokus penelitian. Dapat berupa manusia, hewan, benda, peristiwa, atau gejala yang memiliki karakteristik tertentu.

Tujuan pengambilan sampel adalah untuk menghemat waktu, biaya, dan sumber daya, serta untuk mendapatkan informasi yang relevan tentang populasi secara keseluruhan.

Perbedaan Utama antara populasi dan sampel adalah:

(1)   Populasi adalah seluruh kelompok, sedangkan sampel adalah bagian dari kelompok.

(2)   Populasi biasanya lebih luas dan sulit diakses secara menyeluruh, sedangkan sampel lebih terbatas dan lebih mudah diakses.

Contoh:

Jika peneliti ingin mengetahui pendapat masyarakat tentang suatu isu, populasi penelitian adalah seluruh penduduk Indonesia. Namun, karena sulit dan tidak praktis untuk meneliti seluruh penduduk, peneliti dapat mengambil sampel, misalnya 1000 orang yang mewakili berbagai kelompok usia, jenis kelamin, dan wilayah di Indonesia.

Dalam penelitian, pemahaman tentang populasi dan sampel sangat penting untuk memastikan validitas dan reliabilitas hasil penelitian.

B.    Cara Menentukan Populasi dan Sampel

Menentukan populasi dan sampel melibatkan beberapa langkah penting. Pertama, peneliti harus mendefinisikan populasi yang menjadi objek penelitian, yaitu seluruh individu atau objek yang memiliki karakteristik tertentu yang relevan dengan penelitian. Selanjutnya, sampel diambil dari populasi, yang merupakan bagian representatif dari populasi tersebut. Penentuan sampel ini bisa dilakukan dengan berbagai teknik, seperti simple random sampling, systematic random sampling, stratified random sampling, atau cluster random sampling. 

Berikut adalah langkah-langkah lebih detail dalam menentukan populasi dan sampel:

1)    Menentukan Tujuan dan Karakteristik Populasi: Tentukan tujuan penelitian dan karakteristik populasi yang relevan dengan tujuan tersebut. Contohnya, jika penelitian ingin mengetahui efektivitas obat tertentu pada penderita diabetes, maka populasi yang relevan adalah penderita diabetes. 

2)    Mendefinisikan Populasi: Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang memiliki karakteristik tertentu.  Definisikan populasi secara jelas, termasuk batasan geografis, waktu, dan kriteria lainnya. 

3)    Menentukan Sampel: Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk dianalisis.  Pilih sampel yang representatif, yaitu sampel yang karakteristiknya mencerminkan karakteristik populasi. 

Ada beberapa teknik pengambilan sampel yang bisa digunakan, seperti:

a)      Simple Random Sampling: Setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. 

b)      Stratified Random Sampling: Populasi dibagi menjadi beberapa strata (kelompok), dan kemudian diambil sampel dari setiap strata. 

c)       Systematic Random Sampling: Sampel diambil secara teratur dari daftar populasi dengan interval tertentu. 

d)      Cluster Random Sampling: Populasi dibagi menjadi beberapa klaster (kelompok), dan kemudian dipilih beberapa klaster secara acak untuk menjadi sampel. 

e)      Nonprobability Sampling: Teknik ini tidak memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel, contohnya purposive sampling, accidental sampling, snowball sampling, dan quota sampling. 

4)    Menentukan Ukuran Sampel

Ukuran sampel yang tepat tergantung pada beberapa faktor, seperti:

a)      Tujuan penelitian: Semakin presisi tujuan penelitian, semakin besar ukuran sampel yang dibutuhkan. 

b)      Tingkat kepercayaan: Tingkat kepercayaan yang lebih tinggi memerlukan ukuran sampel yang lebih besar. 

c)       Margin of error: Margin of error yang lebih kecil memerlukan ukuran sampel yang lebih besar. 

d)      Ketersediaan sumber daya: Waktu, biaya, dan tenaga yang tersedia akan memengaruhi ukuran sampel yang dapat diambil. 

Rumus Slovin dapat digunakan untuk menghitung ukuran sampel jika ukuran populasi diketahui. 

Jika populasi tidak diketahui, formula berbasis tingkat kepercayaan, proporsi, dan margin of error dapat digunakan. 

5)    Melakukan Analisis Sampel: Setelah sampel diambil, lakukan analisis data untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan penelitian.  Hasil analisis sampel dapat digeneralisasi untuk menggambarkan populasi secara keseluruhan, dengan asumsi bahwa sampel representatif. 

 

C.     Probability Sampling

Probability sampling adalah metode pengambilan sampel di mana setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Metode ini menggunakan prinsip acak untuk memastikan representasi yang adil dari populasi dalam sampel yang diambil.

Teknik ini disebut juga sebagai random sample. Biasanya ia digunakan untuk memastikan agar setiap elemen populasi mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi bagian. Probability sampling pada umumnya memiliki hasil yang lebih objektif. Terdapat lima macam teknik yang bisa kamu gunakan, berikut penjelasannya.

Contoh Probability Sampling:

1.     Simple Random Sampling: Menggunakan metode acak sederhana seperti undian atau generator angka acak untuk memilih sampel. Contohnya, memilih 100 siswa secara acak dari seluruh siswa di sebuah sekolah.

Simple random sampling atau pengambilan sampel acak sederhana adalah teknik penarikan sampel yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anggota populasi. Cara pengambilannya menggunakan nomor undian. Jika kamu ingin menggunakan teknik ini, pastikan kamu telah memiliki daftar nama populasi terlebih dahulu. Contohnya, kamu ingin mengambil 20 sampel dari 50 orang. Setelah membuat undian, ambil untuk sampel pertama. Kemudian nama tersebut kembalikan lagi, dan ambil undian sampel kedua. Ini untuk menjaga agar probabilitas tetap sama.

2.     Stratified Random Sampling: Membagi populasi menjadi beberapa strata (kelompok) berdasarkan karakteristik tertentu (seperti usia, jenis kelamin, atau tingkat pendidikan), kemudian mengambil sampel acak dari setiap strata. Contohnya, jika ingin mengetahui pendapat siswa tentang kurikulum baru, dapat dibagi populasi menjadi beberapa strata (misalnya, siswa kelas 10, 11, 12), lalu mengambil sampel acak dari setiap strata tersebut.

Dengan metode ini, pengambilan sampel tidak seacak sebelumnya. Teknik dilakukan dengan menggunakan interval dalam memilih sampel penelitian. Langkah pertama adalah mengurutkan populasi terlebih dahulu. Kemudian cari interval dengan membagi jumlah populasi dengan sampel yang dibutuhkan

Misalnya, populasi yang diincar berjumlah 50 orang. Kita ingin mengambil sampel 10 saja. Untuk menentukan intervalnya, 50 orang populasi dibagi 10 orang untuk sampel. Hasilnya adalah 5. Berarti sampel yang kita ambil adalah urutan ke-5, 10, 15, dan seterusnya.

3.     Cluster Sampling: Membagi populasi menjadi beberapa kelompok atau cluster, lalu secara acak memilih beberapa cluster untuk dijadikan sampel. Contohnya, untuk meneliti pendapat warga tentang kebijakan pemerintah, dapat membagi wilayah menjadi beberapa cluster (seperti RT/RW), lalu memilih beberapa cluster secara acak dan mewawancarai semua warga di cluster yang terpilih.

Stratified random sampling atau sampel acak berstrata didasarkan pada tingkatan tertentu. Awalnya, peneliti harus mengetahui kesamaan dan perbedaan karakter yang dimiliki oleh populasi. Misalnya, peneliti ingin melihat tingkat kesejahteraan di kantor A. Ia dapat membagi kelompok menjadi karyawan, manajer tingkat menengah, dan tingkat atas.

4.     Systematic Sampling: Memilih sampel dengan interval tertentu setelah anggota pertama dipilih secara acak. Contohnya, jika ada daftar nama siswa, kemudian siswa pertama dipilih secara acak, selanjutnya setiap siswa ke-5 dalam daftar akan menjadi sampel.

Semua metode ini memastikan bahwa setiap elemen populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi ke populasi secara keseluruhan.

Pengambilan sampel kluster dilakukan dengan cara membagi populasi ke dalam beberapa kelompok. Pembagian dapat didasarkan pada lokasi, usia, jenis kelamin, dan kategori lain yang setara. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

a)      Single stage cluster: peneliti secara acak menentukan kelompok mana yang menjadi sampel, sehingga ada beberapa kelompok yang tidak mendapatkan kesempatan

b)      Two stage cluster: peneliti harus memilih kelompok secara acak terlebih dahulu, kemudian menarik sampel random darinya

c)       Systematic clustering: mirip dengan systematic random sampling, semua elemen diurutkan kemudian diambil berdasarkan interval.

5.     Multi Stage Sampling

Metode ini adalah gabungan antara stratified, cluster, dan simple random sampling. Biasanya multi stage sampling dilakukan kepada populasi yang jumlahnya sangat besar. Contoh penggunaannya adalah pada sensus penduduk. Berikut ini langkah-langkahnya:

a)      Bagi populasi menjadi beberapa kelompok;

b)      Bagi lagi kelompok menjadi sub-kelompok (strata) berdasarkan kesamaan yang dimiliki;

c)       Proses pembagian dapat dilakukan hingga lebih dari tiga kali;

Setelahnya peneliti dapat menarik sampel dari setiap kelompok

 

D.    Non Probability Sampling

Berbeda dengan metode sebelumnya, non-probability sampling lebih bergantung pada kemampuan dan batasan peneliti dalam menarik sampel. Misalnya, ketika peneliti tidak memiliki daftar nama dari populasi, atau mungkin data yang mereka pegang tidak akurat. Walaupun lebih fleksibel dan nyaman, terkadang hasil dari metode ini mengandung bias penelitian. Ada beberapa teknik non-probability sampling, berikut penjelasannya.

Non-probability sampling adalah teknik pengambilan sampel di mana tidak semua anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Pemilihan sampel seringkali didasarkan pada pertimbangan subjektif peneliti, bukan secara acak. Contohnya adalah purposive sampling (sampel bertujuan) dan accidental sampling (sampel tidak sengaja).

Non-probability sampling: Teknik pengambilan sampel di mana setiap anggota populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel. Peneliti menggunakan kriteria non-acak seperti ketersediaan, kedekatan geografis, atau pengetahuan ahli.

Contoh:

1.     Purposive sampling: Peneliti memilih sampel berdasarkan kriteria atau tujuan tertentu yang relevan dengan penelitian, seperti memilih responden yang memiliki pengalaman tertentu terkait topik penelitian.

Purposive sampling adalah teknik non-probabilitas yang sering digunakan karena kemudahannya. Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan kriteria sampel yang sesuai dengan penelitian.

Contohnya, kita ingin meneliti penyakit kanker serviks. Kriteria terdiri dari pasien kanker serviks, rentang usia misal 18-30 tahun, serta sudah memiliki suami. Pastikan semua sampel memenuhi kriteria tersebut agar penelitian lebih valid. 

2.     Accidental sampling: Peneliti memilih sampel secara kebetulan, misalnya dengan mensurvei orang yang ditemuinya di suatu tempat.


Teknik penarikan sampel ini biasanya dilakukan tanpa sengaja. Cara ini cocok untuk penelitian yang sifatnya umum.

Misalnya mengukur kepuasan warga Jakarta kepada fasilitas transportasi. Jadi peneliti bisa berjaga di sekitar stasiun dan halte kemudian menanyai orang-orang yang menggunakan fasilitas tersebut.

Accidental sampling juga cocok untuk mendapatkan sampel yang langka. Misalnya, peneliti ingin mengetahui penyakit lupus yang jarang diderita orang.

3.     Quota sampling: Peneliti menetapkan kuota atau jumlah sampel untuk setiap kategori dalam populasi, lalu memilih sampel secara non-acak untuk memenuhi kuota tersebut.

Quota sampling bergantung pada kuota yang sudah ditentukan sebelumnya. Peneliti cukup menentukan sampel yang menurutnya representatif. Selain itu, proporsi dari jenis data tertentu perlu juga untuk dipertimbangkan. Misalnya populasi berjumlah 100 orang yang terdiri dari 40 persen wanita dan 60 persen laki-laki. Peneliti menentukan kuota sebanyak 10 orang. Proporsi jenis kelamin harus setara, jadi sampel terdiri dari 4 wanita dan 6 laki-laki.

4.     Snowball sampling: Peneliti meminta responden pertama untuk merekomendasikan responden lain yang memiliki karakteristik serupa, sehingga sampel dapat ditemukan secara bertahap.

              Snowball sampling dikenal pula dengan sebutan bola salju. Cara melakukannya adalah dengan menemukan sampel pertama, kemudian meminta rekomendasi sampel berikutnya kepada orang tersebut. Begitu pula dengan selanjutnya hingga kebutuhan survei terpenuhi. 

Biasanya snowball sampling digunakan untuk penelitian mengenai hal sensitif dan menyangkut privasi sehingga sulit untuk menemukan sampel yang mau terlibat. Contohnya, penelitian tentang penderita HIV, kaum waria, transgender, dan lainnya. 

 

Pentingnya Non-probability sampling berguna untuk penelitian eksploratif atau studi pendahuluan, atau ketika peneliti ingin meneliti kelompok yang sulit dijangkau.

 

Tabel

Perbedaan Probability Sampling dengan Non Probability Sampling

 

Unsur

Probality Sampling

Non Probality Sampling

Metode

Menggunakan metode acak (random) seperti simple random sampling, systematic sampling, stratified sampling, dan cluster sampling

Tidak menggunakan metode acak, melainkan bergantung pada pertimbangan peneliti atau faktor-faktor lain

Peluang Terpilih

Setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi sampel. 

Tidak semua anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih. 

Biaya dan Waktu

Lebih Mahal dan Lebih Lama

Lebih Murah dan Lebih Cepat

Akurasi dan Penerimaan Hasil

Lebih tepat dan Penerimaan bersifat Universal

Kurang Tepat dan Penerimaan Masuk Akal

Generalisasi

Hasil penelitian dapat digeneralisasi ke populasi yang lebih luas dengan tingkat kepercayaan yang tinggi. 

Hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi ke populasi secara luas

Waktu Penggunaan

Digunakan ketika penelitian bertujuan untuk menghasilkan generalisasi ke populasi yang lebih luas.

Digunakan ketika penelitian memiliki tujuan eksplorasi, pengujian hipotesis, atau ketika tidak memungkinkan untuk melakukan probability sampling

Contoh

a.     Simple random sampling: Menentukan sampel secara acak dari daftar populasi. 

b.    Systematic sampling: Memilih sampel berdasarkan interval atau jarak tertentu. 

c.     Stratified sampling: Membagi populasi menjadi kelompok dan memilih sampel secara acak dari setiap kelompok. 

d.    Cluster sampling: Membagi populasi menjadi kelompok dan memilih seluruh anggota dari beberapa kelompok tertentu. 

 

a.     Convenience sampling: Memilih sampel yang mudah diakses oleh peneliti. 

b.    Purposive sampling: Memilih sampel dengan karakteristik tertentu yang diinginkan oleh peneliti. 

c.     Quota sampling: Memilih sampel berdasarkan kuota tertentu dalam setiap kelompok. 

d.    Snowball sampling: Memilih sampel dengan menggunakan rujukan dari sampel yang sudah ada

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, S. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara.

Bennett, N., Borg, W. R., & Gall, M. D. (1984). Educational Research: An Introduction. British Journal of Educational Studies, 32(3), 274. https://doi.org/10.2307/3121583

Emzir. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Kasiram, Mohammad. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Malang: UIN Malang

Lubis. A.Y, (2014) Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Muslim. (2016). Varian-Varian Paradigma, Pendekatan, Metode, Dan Jenis Penelitian Dalam Ilmu Komunikas I, Wahana, Vol. 1, No. 10, Ganjil, 78-79

Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta

Sudjana, N. dan Ibrahim, R. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Suharsimi Arikunto. 2019. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Suparlan Suhartono. 2008. Wawasan pendidikan: Sebuah pengantar pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzzmedia.


Jumat, 09 Mei 2025

MENGUATKAN KOMUNITAS FILANTROPI ISLAM BERBASIS MEDIA SOSIAL DALAM MENDORONG KESADARAN BERDERMA

 MATERI FILANTROPI ISLAM

Oleh: Eny Latifah,S.E.Sy.,M.Ak


Menguatkan Komunitas Filantropi Islam Berbasis Media Sosial dalam Mendorong Kesadaran Berderma.

 

A.    Pengertian Komunitas Filantropi Islam

Komunitas filantropi Islam adalah kelompok orang yang berkumpul dan bersatu untuk menjalankan praktik kedermawanan berdasarkan nilai-nilai Islam, seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF). Tujuan utama komunitas ini adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui bantuan, pemberian, dan dukungan sukarela.

Filantropi Islam merupakan praktik kedermawanan yang sesuai dengan ajaran Islam, yang menekankan pada kepedulian terhadap sesama dan keadilan sosial.

Komunitas ini dapat terbentuk secara informal atau formal, namun fokusnya adalah pada kegiatan amal dan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Zakat, infak, sedekah, dan wakaf adalah bentuk-bentuk filantropi yang paling umum dalam Islam, yang bertujuan untuk membantu orang miskin dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Komunitas filantropi Islam bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, membantu mereka yang membutuhkan, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Contoh aktivitas komunitas filantropi Islam adalah penggalangan dana untuk membantu korban bencana, pemberian beasiswa pendidikan, atau pendanaan program pemberdayaan ekonomi.

B.    Gerakan Filantropi Islam Berbasis Media Sosial

Gerakan filantropi Islam berbasis media sosial memanfaatkan platform online untuk menggalang dana dan kesadaran masyarakat dalam berderma, seperti Sedekah Rombongan, Sedekah Bergerak, dan Kitabisa.com. Media sosial memungkinkan penggalangan dana, pengelolaan donasi, dan penyaluran bantuan secara efektif dan efisien.

Media sosial digunakan untuk menyebarkan informasi mengenai kegiatan filantropi, promosi, dan penggalangan dana.

Penggalangan Dana: Platform seperti Kitabisa.com memungkinkan penggalangan dana online, sementara lembaga filantropi lain menggunakan media sosial untuk mempromosikan kampanye dan menerima donasi.

Penyaluran Bantuan: Donasi yang terkumpul kemudian disalurkan melalui berbagai program filantropi, seperti bantuan kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Contoh Gerakan: Sedekah Rombongan dan Sedekah Bergerak, serta Laskar Sedekah dan Sedekah Kreatif Edukatif, adalah contoh gerakan filantropi Islam berbasis media sosial di Indonesia.

Implikasi: Gerakan filantropi Islam berbasis media sosial memiliki implikasi positif, seperti meningkatkan kesadaran berderma, memperluas jangkauan kegiatan filantropi, dan melibatkan lebih banyak orang dalam kegiatan sosial.

Etika Bermedia Sosial: Dalam menjalankan gerakan filantropi berbasis media sosial, penting untuk memperhatikan etika, seperti menggunakan media sosial sebagai sarana menebar kebaikan, mengingat hisab atas perbuatan, dan melakukan tabayyun sebelum berpendapat.

C.     Strategi penguatan Komunitas Filantropi Islam berbasis media sosial untuk mendorong kesadaran berderma

Strategi penguatan Komunitas Filantropi Islam berbasis media sosial untuk mendorong kesadaran berderma dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk:

1. Meningkatkan Kehadiran dan Interaksi:

a)    Aktif di Berbagai Platform:

Komunitas filantropi harus memiliki kehadiran di berbagai platform media sosial yang populer, seperti Instagram, Facebook, YouTube, dan TikTok. 

b)    Konten yang Menarik dan Informatif:

Membagikan konten yang menarik, informatif, dan relevan dengan ajaran Islam tentang kebaikan dan berderma. 

c)     Interaksi dengan Pengguna:

Menanggapi komentar dan pesan, serta mendorong diskusi yang positif dan membangun. 

d)    Promosi yang Kreatif:

Menggunakan berbagai media promosi seperti iklan, video, dan konten interaktif. 

2. Meningkatkan Kepercayaan dan Transparansi:

a)      Profil yang Jelas: Menyediakan informasi yang jelas tentang profil komunitas, tujuan, dan kegiatan. 

b)      Laporan Keuangan yang Transparan: Menyajikan laporan keuangan yang teratur dan transparan kepada donatur. 

c)       Kerja Sama dengan Influencer: Kerja sama dengan influencer yang memiliki audiens yang luas dan relevan. 

d)      Umpan Balik dari Donatur: Mendengarkan masukan dan kritik dari donatur untuk meningkatkan kualitas kegiatan. 

3. Menyediakan Saluran Donasi yang Mudah:

a)      Rekening Khusus: Menyediakan rekening khusus untuk penerimaan donasi yang mudah diakses. 

b)      Platform Donasi Online: Menggunakan platform donasi online yang aman dan terpercaya. 

c)       Donasi Lewat Aplikasi: Memungkinkan donasi melalui aplikasi yang populer di masyarakat. 

4. Mengajak Partisipasi Masyarakat:

a)      Kampanye Amal: Menyelenggarakan kampanye amal yang menarik dan melibatkan masyarakat. 

b)      Kegiatan Sosial: Menyelenggarakan kegiatan sosial yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. 

c)       Volunteer: Mengajak masyarakat untuk menjadi volunteer dalam kegiatan filantropi. 

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, komunitas filantropi Islam dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya berderma dan menggalang donasi lebih efektif. 

 

D.    Komunitas Filantropi Islam Berbasis Media Sosial dalam Mendorong Kesadaran Berderma

Komunitas filantropi Islam berbasis media sosial adalah gerakan yang memanfaatkan platform media sosial untuk menggalang kesadaran dan dukungan dalam kegiatan amal, seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Contoh komunitas ini antara lain Sedekah Rombongan, Sedekah Bergerak, Laskar Sedekah, Sedekah Kreatif Edukatif, dan Kitabisa.com. Media sosial digunakan untuk promosi, penggalangan dana, dan menjangkau lebih banyak orang untuk berderma.

Komunitas filantropi Islam berbasis media sosial adalah kelompok atau organisasi yang menggunakan media sosial sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan filantropi Islam, seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Contoh Komunitas:

1.     Sedekah Rombongan: Komunitas yang menggalang donasi melalui kegiatan rombongan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

2.     Sedekah Bergerak: Komunitas yang bergerak di berbagai daerah untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat.

3.     Laskar Sedekah: Komunitas yang fokus pada kegiatan sosial dan pendidikan.

4.     Sedekah Kreatif Edukatif: Komunitas yang menggunakan pendekatan kreatif dan edukatif dalam kegiatan filantropi.

5.     Kitabisa.com: Platform crowdfunding yang memungkinkan siapa saja untuk menggalang dana untuk berbagai tujuan sosial.

Peran Media Sosial:

1)    Promosi: Media sosial digunakan untuk mempromosikan program-program filantropi dan menarik minat masyarakat untuk berderma.

2)    Penggalangan Dana: Platform media sosial digunakan untuk memudahkan proses donasi dan mencapai target penggalangan dana.

3)    Jangkauan: Media sosial memungkinkan komunitas filantropi Islam untuk menjangkau lebih banyak orang dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya berderma.

Manfaat:

1.     Meningkatkan Kesadaran: Komunitas filantropi berbasis media sosial membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya berderma dan membantu sesama.

2.     Mempermudah Donasi: Platform media sosial memudahkan proses donasi dan menjangkau lebih banyak orang untuk berderma.

3.     Menjangkau Lebih Banyak Orang: Media sosial memungkinkan komunitas filantropi untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas dan meningkatkan partisipasi dalam kegiatan amal.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Allamah, Rijal, Sri Sudiarti, and Julfan Saputra. 2021. “Peran Zakat, Infaq, Shadaqah Dan Wakaf Dalam Memberdayakan Ekonomi Ummat.” Al-Sharf: Jurnal Ekonomi Islam 2 (1): 35–46.

Barbara Ibrahim. 2008. From Charity to Social Change; Trends in Arab Philanthropy, (Kairo: American University in Cairo Press.

Hadi, Solikhul. 2018. “Pemberdayaan Ekonomi Melalui Wakaf.” ZISWAF: Jurnal Zakat Dan Wakaf 4 (2): 229–44.

Helmut K. Anheier and Regina A. List. 2005. A. Dictionary of Civil Society, Philanthropy and the Non-Profit Sector, London-New York: Routledge.

Lawrence J. Friedman and Mark D. McGarvie, (2003). Charity, Philanthropy, and Civility in American History, (New York: Cambridge University Press.

Linsay Anderson, “Conspicuous Charity”, MA Thesis (Texas: Texas A&M University, 2007).

M. Dawam Rahardjo. 2003. “Filantropi Islam dan Keadilan Sosial: Mengurai Kebingungan Epistemologis”, dalam Berderma untuk Semua: Wacana dan Praktik Filantropi Islam, ed. Idris Thaha, Jakarta: Teraju.

Marty Sulek, “On the Classical Meaning of Philanthropia”, Nonprofit and Voluntary Sector Quarterly, 39:3 (2010).

Murti, Ari. 2017. “Peran Lembaga Filantropi Islam Dalam Proses Distribusi Ziswaf (Zakat, Infak, Sodaqoh Dan Wakaf) Sebagai Pemberdayaan Ekonomi Umat.” LABATILA: Jurnal Ilmu Ekonomi Islam 1 (01): 89–97.

Robert L. Payton and Michael P. Moody, Understanding Philanthropy, (Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press, 2008).

Syafiq, Ahmad. 2018. “Peningkatan Kesadaran Masyarakat Dalam Menunaikan Zakat, Infaq, Sedekah Dan Wakaf (ZISWAF).” ZISWAF: Jurnal Zakat Dan Wakaf 5 (2).


POTRET KOMUNIKASI FILANTROPI ISLAM BERBASIS MEDIA SOSIAL

 MATERI FILANTROPI ISLAM

Oleh: Eny Latifah,S.E.Sy.,M.Ak


Potret Komunitas Filantropi Islam Berbasis Media Sosial

 

A.    Potret komunitas Filantropi Islam

Potret komunitas filantropi Islam menunjukkan keberadaan berbagai lembaga yang berfokus pada zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF). Komunitas ini aktif dalam membantu masyarakat, terutama kaum muslim yang membutuhkan, melalui kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan. Lembaga-lembaga ini juga berperan dalam mengembangkan pemahaman tentang kedermawanan dan kepedulian sosial di kalangan umat Islam.

Komunitas filantropi Islam adalah kelompok atau organisasi yang berfokus pada praktik kebaikan dan kedermawanan dalam tradisi Islam. Mereka umumnya mengumpulkan dan mendistribusikan dana untuk kegiatan keagamaan, sosial, dan kemanusiaan, seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf. 

Berdasarkan definisi terkait filantropi, dapat dipahami bahwa filantropi adalah bentuk tindakan baik demi kepentingan masyarakat luas dengan tidak mengharapkan apapun. Kemudian, konsep filantropi semakin berkembang berawal dari memberikan bantuan berfokus pada individu menjadi fokus ke pemberdayaan masyarakat dengan tujuan menyejahterakan masyarakat. Untuk melihat konsep filantopi modern, peneliti melakukan wawancara kepada 2 (dua) lembaga filantropi yaitu Dompet Dhuafa dan Lazis NU.

Berdasarkan sejarahnya, Dompet Dhuafa adalah lembaga zakat yang merupakan lembaga nirlaba (nonprofit) milik masyarakat Indonesia, yang fokus kepada mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum duafa dengan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, dan perusahaan/lembaga.

Kelahiran lembaga tersebut berawal dari empati kolektif komunitas jurnalis yang banyak berinteraksi dengan masyarakat miskin, sekaligus sering berjumpa dengan kaum kaya. Oleh karena itu, digagas manajemen galang kebersamaan dengan siapapun yang peduli kepada nasib duafa. Empat orang wartawan, yaitu Parni Hadi, Haidar Bagir, S. Sinansari Ecip, dan Eri Sudewo berpadu sebagai dewan pendiri lembaga independen Dompet Dhuafa Republika.

 

B.    Komunitas Filantropi Islam

Beberapa Komunitas Filantropi Islam:

1.     Lembaga Filantropi: Lembaga-lembaga yang secara formal beroperasi untuk mengelola dan mendistribusikan dana filantropi.

2.     Komunitas Relawan: Kelompok sukarelawan yang bekerja dalam kegiatan filantropi, misalnya dalam kegiatan sosial, bencana alam, atau kegiatan keagamaan.

3.     Yayasan: Yayasan yang didirikan untuk tujuan filantropi, seringkali didasarkan pada nilai-nilai agama dan bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Contoh Komunitas Filantropi Islam:

1)    BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional): Lembaga pemerintah yang mengelola zakat di Indonesia.

2)    Dompet Dhuafa: Lembaga filantropi yang fokus pada pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.

3)    Lazis NU (Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama): Lembaga filantropi yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.

4)    Sedekah Rombongan, Sedekah Bergerak, Laskar Sedekah, Sedekah Kreatif Edukatif, dan Kitabisa.com: Lembaga filantropi yang berbasis media sosial.

Peran Komunitas Filantropi Islam:

1)    Membantu Mereka yang Membutuhkan: Menyediakan bantuan finansial, makanan, pakaian, pendidikan, dan layanan kesehatan.

2)    Pemberdayaan Masyarakat: Memberikan dukungan untuk pengembangan ekonomi, pendidikan, dan keterampilan masyarakat.

3)    Meningkatkan Kualitas Hidup: Memperbaiki kondisi hidup masyarakat, terutama mereka yang terkena dampak bencana atau kemiskinan.

4)    Menumbuhkan Rasa Peduli: Membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk berbagi dan membantu sesama

C.     Peran Pemerintah atas Komunitas Filantropi Islam

Pemerintah memiliki peran penting dalam mendukung komunitas filantropi Islam di Indonesia, termasuk melalui regulasi yang mengatur pengelolaan zakat. Pemerintah juga berperan dalam mengoptimalkan pengumpulan dan penggunaan dana filantropi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Berikut adalah beberapa peran pemerintah yang lebih detail:

1.     Regulasi dan Pengaturan: Pemerintah mengeluarkan undang-undang dan peraturan terkait pengelolaan zakat, seperti Undang-Undang No. 38/1999 dan Undang-Undang No. 23/2011 untuk menggantikannya.

2.     Optimalisasi Dana Filantropi: Pemerintah berusaha untuk mengoptimalkan pengumpulan dan penggunaan dana filantropi, termasuk dana ZIS (Zakat, Infak, Sedekah), untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

3.     Kerja Sama dengan Lembaga Filantropi: Pemerintah dapat menjalin kerja sama dengan lembaga filantropi Islam untuk mengimplementasikan berbagai program sosial dan ekonomi.

4.     Penyaluran Bantuan: Pemerintah dapat menyalurkan bantuan melalui lembaga filantropi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, seperti melalui program BAZNAS.

5.     Edukasi dan Sosialisasi: Pemerintah berperan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya berzakat dan berinfak, serta pentingnya filantropi Islam dalam meningkatkan kesejahteraan.

6.     Dukungan untuk Lembaga Filantropi: Pemerintah dapat memberikan dukungan kepada lembaga filantropi melalui berbagai bentuk, seperti insentif dan reward bagi masyarakat yang aktif dalam kegiatan filantropi.

D.    Sedekah Rombongan

Cikal bakal SedekahRombongan berawal dari gagasan seorang social entrepreneur asal Kota Jogja, Saptuari Sugiharto. Gagasan itu pun tak serta merta datang begitu saja, ada proses yang mengawalinya. Semua bermula dari tulisan di blog pribadinya yang ia tulis di medio tahun 2001 silam.

Inspirasinya datang dari Putri Herlina, seorang remaja difabel yang tak memiliki tangan sejak lahir namun bekerja merawat bayi-bayi yang dibuang di Panti Asuhan Sayap Ibu di Jogjakarta. Saptuari kemudian mengisahkan cerita untuk mengumpulkan bantuan untuk panti asuhan tersebut. Sungguh di luar dugaan, respon dari pembaca artikel tersebut bisa dinilai sangat luar biasa. Message, maupun mention terus masuk, semuanya ingin nitip sedekah, semuanya ingin sedekahnya diberikan kepada yang membutuhkan.

“Saya seperti mendapatkan amanah dari langit. Bayangkan, kawan-kawan yang hanya berkenalan di dunia maya dan tidak pernah berjumpa dengan saya. Mereka rela berbagi dan percaya bahwa sedekahnya akan sampai kepada yang berhak. Hanya Allah yang mampu membuat semua ini terjadi. Terimakasih, kawan-kawan… Amanah kalian akan saya sampaikan. Ini adalah pertanggungjawaban dunia dan akhirat. Tangan, kaki, dan para malaikat-lah yang menjadi saksi aksi kita ini…” tutur Saptuari.

Langkahnya tak terhenti sampai di situ.  Saptuari memutuskan untuk melanjutkan gerakan ini dengan nama resmi SedekahRombongan. SedekahRombongan memang ditulis dengan taggar di depannya supaya mudah dikenali terutama di dunia maya. Saptuari kemudian membuat dua rekening khusus untuk menggalang dana dari donatur

SedekahRombongan yang kemudian disebut dengan Sedekaholic. Rekening ini bukan rekening bisnis dan hanya boleh menerima transfer dari Sedekaholic untuk Sedekah Rombongan.

Setiap harinya makin banyak yang memberikan donasi melalui SedekahRombongan. Ada yang konfirmasi ada yang tidak. Tetapi semua tercatat di mutasi rekening yang rutin direkap. Semua dana yang tergalang melalui SedekahRombongan disampaikan untuk para dhuafa. Kemudian, tanggal 9 Juni 2011 disepakati sebagai ‘hari kelahiran SedekahRombongan. Tanggal ini adalah tanggal posting pertama kali tentang pengumpulan bantuan untuk Panti Asuhan Sayap Ibu di Jogjakarta. Kini Sedekah Rombongan telah mengkukuhkan eksistensinya dengan bernaung dalam yayasan Sedekah Rombongan yang terdaftar di Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia dengan nomor Yayasan AHU 0009592.HA.01.12.Tahun 2018.

Lalu, satu persatu muncul kawan-kawan yang mendukung gerakan SedekahRombongan. Ada yang menyumbang dana, ada pula yang menyumbang tenaga, hingga terkumpul banyak relawan yang sukarela mengabdikan dirinya. Tanpa gaji, tanpa pamrih, bahkan biaya bensin untuk wara-wiri pun ditanggung sendiri. Pada saat penyerahan juga muncul sukarelawan dadakan yang ikut mendukung gerakan ini, mereka semua ikhlas turun ke lapangan tanpa mendapatkan imbalan.

Sedekah Rombongan terus bergerak dan bertransformasi menjadi organisasi sosial yang siap siaga membantu sesama dengan terus meningkatkan layanannya.

SedekahRombongan hadir sebagai mitra pemerintah dan yayasan sosial lainnya. SedekahRombongan mengedepankan penghidmatan pada para dhuafa yang sakit dan tak mampu berobat, dan berperan sebagai ‘jembatan’ para Sedekaholic dengan para pasien.

Visi SedekahRombongan adalah menyampaikan titipan langit tanpa rumit, sulit, dan berbelit-belit.

Sedangkan misinya adalah pertama, mengajak semua kalangan masyarakat untuk Bersama-sama merutinkan sedekah dengan mengedukasi tentang Gerakan Sedekah Rombongan.

Kedua, menyampaikan dana sedekah tepat sasaran kepada dhuafa yang membutuhkan, mendampingi yang sakit tanpa prosedur yang rumit. Dan ketiga, melaporkan semya santunan yang sudah diberikan dengan rapi dan akuntable untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Ketiga, melaporkan semua sedekah yang sudah disampaikan secara rapi dan berkelanjutan, agar kepercayaan masyarakat terus terjaga. Namun dalam bahasa sosial media visi SedekahRombongan yaitu “Cari muka di depan Tuhan”. Sedangkan misinya dirumuskan menjadi “Menyampaikan titipan langit tanpa rumit, sulit dan berbelit-belit”.

SedekahRombongan mempunyai filosofi layaknya rombongan semut yang mengangkat potongan roti bersama-sama. Work flow SedekahRombongan yaitu survey, santuni, dan dampingi. Hal ini berlaku terutama untuk para pasien baru yang perlu pendampingan. SedekahRombongan membantu pasien untuk menyiapkan kebutuhan jaminan kesehatan untuk pasien sebagai upaya memberikan haknya yang diberikan oleh pemerintah.

Kurir Sedekah Rombongan pada dasarnya merupakan kesatuan para kurir. Saat ini ada ratusan kurir SedekahRombongan yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka bergerak tanpa ekspos media dan bekerja dengan prinsip yang sama, yaitu membantu orang lain yang membutuhkan agar bisa cari muka di depan tuhan.

Rumah Singgah SedekahRombongan (RSSR)

RSSR atau Rumah Singgah SedekahRombongan merupakan rumah bersama yang dipergunakan untuk singgah dan/atau tinggal sementara bagi para pasien dampingan SedekahRombongan. #SedekahRombongan kini memiliki 14 rumah singgah yang tersebar di 13 kota di seluruh Indonesia.

 

E.     Laskar Sedekah

Apa itu Laskar Sedekah?

Laskar Sedekah adalah sebuah komunitas sosial yang melakukan aktivitas filantropi Islam dengan membantu orang-orang yang membutuhkan melalui pemberian sedekah.

Komunitas ini didirikan di Godean, SlemanDaerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 30 Maret 2012 oleh 7 orang pemuda atas inisiasi dari Ma’ruf Fahrudin. Beberapa kalangan mungkin terkesan pragmatis ketika mendengar kata “laskar” tersemat di nama komunitas itu. Terminologi tersebut kerap diasosiakan kepada hal-hal negatif, terutama berkaitan dengan kekerasan dan intimidasi terhadap golongan minoritas tertentu. Terlebih lagi, komunitas tersebut juga membawa embel-embel Islam yang pada masa ini sering diidentikan oleh publik sebagai kelompok radikal, bahkan ekstremis.

Berbeda dengan status quo tersebut, gerakan komunitas Laskar Sedekah cenderung berbeda. Mereka membantu banyak orang yang sedang mengalami kesulitan khusus, seperti sakit, biaya pendidikan, membangun fasilitas umum, dan lain-lain. Mereka seolah ingin menampilkan wajah baru Islam yang semestinya, yaitu yang dipenuhi rasa welas asih.

Komunitas independent yang peduli dan cinta kepada orang-orang yang membutuhkan,dan berkomitmen menyampaikan amanah  sedekah 100% tanpa potongan operasional. Mengabdikan diri dengan waktu, pikiran, tenaga, hingga materi yang mereka punya, untuk memaksimalkan kebaikan terhadap sesama dengan penuh keikhlasan, tanggungjawab, dan professional.

Selalu bergerak menyampaikan amanah  tanpa mengenal lelah meski tak mendapatkan upah. Hidup berdampingan dalam bermasyarakat senantiasa mengajarkan untuk berbagi terhadap sesama,  di samping itu memang begitu lah ajaran dari tiap agama. Sesuai dengan falsafah Jawa “urip ki kudu iso ndungkluk, ojo mung ndangak”, yang berarti kita hidup harus bisa melihat ke bawah kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan, jangan lah menatap pada hingar-bingar kehidupan yang merupakan nafsu dunia.

Hidup ini akan terasa indah jika masing-masing di antara kita menyadari akan nikmatnya berbagi terhadap sesama. Lihatlah kemesraan keluarga semut, yang mau menyisikan sebagian sisa makanannya untuk saudara-saudara mereka. Alangkah indahnya mereka yang mau bergotong royong dengan yang lain hanya untuk mengangkat sebutir nasi. Alam di sekitar kita telah begitu banyak mengajarkan pada kita bagaimana caranya untuk berbagi dengan yang lain

 

Sejarah singkat dari Laskar Sedekah

Berawal dari cerita ada seorang balita yang sedang sakit namun tak ada biaya untuk berobat Melalui sahabat kecil tersebut, hati kami tergerak untuk saling berbagi. Dengan mendirikan sebuah wadah, dimana dalam wadah tersebut terkumpul biodata orang-orang yang membutuhkan, yang sebelumnya telah disurvei terlebih dahulu sehingga sedekah tersalurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

Tujuh pemuda berinisiatif untuk membentuk komunitas ini. Ma’ruf Fahrudin sebagai founder komunitas ini merealisasikan mimpinya untuk berbagi terhadap sesama dengan meng-upload foto seorang balita yang sedang sakit namun tak ada biaya untuk berobat.

Visi Laskar Sedekah yakni sebagai gerakan sosial independen yang peduli dan cinta, kepada mereka yang membutuhkan.

Misi dari Laskar Sedekah mengabdi untuk masyarakat dalam berbagai kegiatan dan misi sosial, diantaranya menyalurkan sedekah cepat, tepat, mudah, profesional dan bertanggung jawab. Selain itu LS juga membantu anak Yatim, Piatu, Dhuafa, orang sakit maupun anak berkebutuhan khusus, pelajar yang tidak mampu, bahkan membantu janda dan duda yang tidak mampu.

Visi-Misi tersebut direalisasikan dalam aksi agenda rutin seperti tebar nasi bungkus, antar-jemput pasien ke rumah sakit, dan eksekusi sedekah yang meliputi menyampaikan uang tunai kepada target sedekah, maupun menyampaikan amanah akad sedekah dari berbagai program LS, diantaranya berbagi paket pendidikan, sembako, atau paket mengaji berupa Iqro’ dan Al-Qur’an.

Laskar sedekah mengajak kepada masyarakat untuk bersedekah melalui media sosial untuk menghimpun dana dalam membantu orang-orang yang membutuhkan. Termasuk sebagai sarana pertanggungjawabannya pun LS menggunakan media sosial dengan meng-upload foto-foto dokumentasi eksekusi sedekah.

Pasukan LS INDONESIA adalah Sebutan untuk anggota yang tergabung dalam Laskar Sedekah. Mereka semua bergerak hanya mencari ridha Allah tanpa mengejar materi. Sejauh ini LS memiliki ratusan pasukan yang tersebar di 17 kota di Indonesia, yaitu di Yogyakarta sebagai pusatnya dan di Jakarta, Bekasi, Samarinda, Tangerang, Surakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Makassar, Banjarmasin, Semarang, Bogor, Probolinggo, Padang, dan Malang sebagai cabangnya. Selain itu LS juga telah memiliki 9 mobil ambulance dan 2 mobil sosial yang digunakan untuk melayani antar-jemput pasien ke rumah sakit secara gratis maupun untuk transportasi menyampaikan amanah sedekah.

Komunitas dengan slogan “Sedekah 100%, tanpa dipotong operasional” memberikan arti semangat tersendiri yang mengingatkan akan pentingnya menyampaikan amanah dengan cepat, tepat dan bertanggung jawab tanpa menguranginya sedikitpun. Hal itulah yang membuat LS untuk senantiasa menghabiskan saldo yang ada di Rekening Bank agar uang sedekah dapat tersalurkan kepada mereka yang membutuhkan dengan segera.

Program Kerja Laskar Sedekah

Sesuai dengan visi dan misinya, Laskar Sedekah bertekad untuk membantu kegiatan kemanusiaan melalui penggalangan sedekah dari publik. Beberapa deskripsi yang telah mereka lakukan adalah sebagai berikut:

4.     Sedekah untuk anak yatim piatu yang tidak mampu.

Program ini bermaksud untuk memberikan santunan kepada anak yatim piatu, baik untuk keperluan sekolahkesehatangizi dan nutrisi, serta keperluan-keperluan lainnya.

Dalam kasus khusus, komunitas Laskar Sedekah juga turut ikut andil dalam upaya pembiayaan operasi anak yatim piatu dan membayar biaya kesehatan lain yang sulit untuk di-cover orang tuanya.

5.     Sedekah untuk janda dan duda yang tidak mampu

Selain anak yatim piatu, Laskar Sedekah juga memberikan santunan kepada janda dan duda tidak mampu, terutama yang telah berusia lanjut. Mereka mengatakan bahwa sebagian besar duda dan janda itu tidak terurus oleh keluarganya. Mereka juga banyak yang terlantar sehingga memerlukan kepedulian dari publik. Beberapa bantuan yang disalurkan untuk mereka antara lain sembako untuk keperluan sehari-hari, uang, serta biaya kesehatan

6.     Tebar nasi bungkus

Program tebar nasi bungkus biasanya dilakukan selama satu minggu sekali, tepatnya pada hari minggu pada pukul 05.00-06.00. Kegiatan tersebut juga diikuti oleh komunitas Laskar Sedekah dari seluruh chapter di Indonesia. Nasi bungkus itu dibagikan kepada para tukang becak, tukang sampah, pemulung, pengemis, dan orang-orang dhuafa lain yang memerlukan makanan.

7.     Wakaf Al Quran

Program wakaf Al-Qur'an ditujukan untuk memenuhi target 1 juta Al Quran bagi masjid, mushola, dan pondok pesantren di seluruh Indonesia. Dalam peluncurannya, Laskar Sedekah mengundang ustaz Yusuf Mansur selaku kepala pondok pesantren penghafal Al-Qur'an bernama Darul Quran untuk membawakan ceramah agama yang berkaitan dengan sedekah.

8.     Ambulans gratis

Program ambulans gratis ditujukan untuk mengatasi keperluan berobat orang-orang yang tidak memiliki biaya untuk membayar ambulans.

Bagi masyarakat yang membutuhkan ambulans gratis, mereka hanya perlu menghubungi contact person Laskar Sedekah. Namun demikian, ambulans tersebut baru tersedia di enam kota, yaitu YogyakartaSurakartaSemarangBekasiJakarta, dan Samarinda.

9.     Sedekah untuk orang sakit

Kegiatan tersebut berbentuk pemberian santunan kepada orang-orang yang menderita sakit tertentu namun tidak memiliki jaminan kesehatan seperti Badan Penyelenggara Jaminan SosialJamkesmas, dan Jamkesda. Pemberian santunan dilakukan untuk membayar biaya pengobatan mereka.

10.                        Sedekah untuk bencana alam

Seperti namanya, program itu memberikan santunan kepada para korban bencana alam. Beberapa korban yang pernah menerima manfaat dari program tersebut adalah korban bencana banjir di Purworejo, kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan pada tahun 2015.

 

DAFTAR PUSTAKA

Allamah, Rijal, Sri Sudiarti, and Julfan Saputra. 2021. “Peran Zakat, Infaq, Shadaqah Dan Wakaf Dalam Memberdayakan Ekonomi Ummat.” Al-Sharf: Jurnal Ekonomi Islam 2 (1): 35–46.

Barbara Ibrahim. 2008. From Charity to Social Change; Trends in Arab Philanthropy, (Kairo: American University in Cairo Press.

Hadi, Solikhul. 2018. “Pemberdayaan Ekonomi Melalui Wakaf.” ZISWAF: Jurnal Zakat Dan Wakaf 4 (2): 229–44.

Helmut K. Anheier and Regina A. List. 2005. A. Dictionary of Civil Society, Philanthropy and the Non-Profit Sector, London-New York: Routledge.

Lawrence J. Friedman and Mark D. McGarvie, (2003). Charity, Philanthropy, and Civility in American History, (New York: Cambridge University Press.

Linsay Anderson, “Conspicuous Charity”, MA Thesis (Texas: Texas A&M University, 2007).

M. Dawam Rahardjo. 2003. “Filantropi Islam dan Keadilan Sosial: Mengurai Kebingungan Epistemologis”, dalam Berderma untuk Semua: Wacana dan Praktik Filantropi Islam, ed. Idris Thaha, Jakarta: Teraju.

Marty Sulek, “On the Classical Meaning of Philanthropia”, Nonprofit and Voluntary Sector Quarterly, 39:3 (2010).

Murti, Ari. 2017. “Peran Lembaga Filantropi Islam Dalam Proses Distribusi Ziswaf (Zakat, Infak, Sodaqoh Dan Wakaf) Sebagai Pemberdayaan Ekonomi Umat.” LABATILA: Jurnal Ilmu Ekonomi Islam 1 (01): 89–97.

Robert L. Payton and Michael P. Moody, Understanding Philanthropy, (Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press, 2008).

Syafiq, Ahmad. 2018. “Peningkatan Kesadaran Masyarakat Dalam Menunaikan Zakat, Infaq, Sedekah Dan Wakaf (ZISWAF).” ZISWAF: Jurnal Zakat Dan Wakaf 5 (2).


MENGUATKAN KOMUNITAS FILANTROPI ISLAM BERBASIS MEDIA SOSIAL DALAM MENDORONG KESADARAN BERDERMA

  MENGUATKAN KOMUNITAS FILANTROPI ISLAM BERBASIS MEDIA SOSIAL DALAM MENDORONG KESADARAN BERDERMA     1.        PENGERTIAN KOMUNITAS FI...