MATERI 9- METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF
Oleh: Eny Latifah,S.E.Sy.,M.Ak
Populasi
dan Sampel dalam Penelitian Kuantitatif
A. Pengertian Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan objek atau subjek yang
menjadi sasaran penelitian. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih
untuk mewakili karakteristik populasi.
Populasi adalah keseluruhan subjek atau objek yang
memiliki karakteristik tertentu yang ingin diteliti, sedangkan sampel adalah
bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili karakteristik populasi
tersebut.
Menurut Sugiyono (2014), populasi adalah wilayah
generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang memiliki karakteristik
tertentu, sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi itu.
Handayani (2020), Populasi adalah totalitas dari
setiap elemen yang akan diteliti yang memiliki ciri sama, bisa berupa individu
dari suatu kelompok, peristiwa, atau sesuatu yang akan diteliti.
Arikunto (2019) menjelaskan bahwa yang dinamakan Populasi
adalah keseluruhan subjek penelitian.
Sedangkan Margono (2017) mendefinisikan Populasi
adalah keseluruhan yang menjadi pusat perhatian seorang peneliti dalam ruang lingkup
dan waktu yang ditentukan.
Menurut Wicaksono (2022), Populasi adalah kelompok
yang menarik bagi peneliti, kelompok kepada siapa peneliti ingin
menggeneralisasi hasil penelitian.
Populasi dapat dikatakan Merupakan seluruh kelompok atau unit yang menjadi
fokus penelitian. Dapat berupa manusia, hewan, benda, peristiwa, atau gejala
yang memiliki karakteristik tertentu.
Tujuan pengambilan sampel adalah untuk menghemat
waktu, biaya, dan sumber daya, serta untuk mendapatkan informasi yang relevan
tentang populasi secara keseluruhan.
Perbedaan Utama antara populasi dan sampel adalah:
(1) Populasi adalah seluruh kelompok, sedangkan sampel adalah bagian
dari kelompok.
(2) Populasi biasanya lebih luas dan sulit diakses secara menyeluruh,
sedangkan sampel lebih terbatas dan lebih mudah diakses.
Contoh:
Jika peneliti ingin mengetahui pendapat masyarakat tentang suatu
isu, populasi penelitian adalah seluruh penduduk Indonesia. Namun, karena sulit
dan tidak praktis untuk meneliti seluruh penduduk, peneliti dapat mengambil
sampel, misalnya 1000 orang yang mewakili berbagai kelompok usia, jenis
kelamin, dan wilayah di Indonesia.
Dalam penelitian, pemahaman tentang populasi dan sampel sangat penting untuk memastikan validitas dan reliabilitas hasil penelitian.
B. Cara Menentukan Populasi dan Sampel
Menentukan populasi dan sampel melibatkan beberapa
langkah penting. Pertama, peneliti harus mendefinisikan populasi yang
menjadi objek penelitian, yaitu seluruh individu atau objek yang memiliki
karakteristik tertentu yang relevan dengan penelitian. Selanjutnya, sampel
diambil dari populasi, yang merupakan bagian representatif dari populasi
tersebut. Penentuan sampel ini bisa dilakukan dengan berbagai teknik,
seperti simple random sampling, systematic random sampling, stratified random
sampling, atau cluster random sampling.
Berikut adalah langkah-langkah lebih detail dalam
menentukan populasi dan sampel:
1)
Menentukan
Tujuan dan Karakteristik Populasi: Tentukan tujuan penelitian dan karakteristik
populasi yang relevan dengan tujuan tersebut. Contohnya, jika penelitian
ingin mengetahui efektivitas obat tertentu pada penderita diabetes, maka
populasi yang relevan adalah penderita diabetes.
2)
Mendefinisikan
Populasi: Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang memiliki karakteristik
tertentu. Definisikan populasi secara jelas, termasuk batasan geografis,
waktu, dan kriteria lainnya.
3)
Menentukan
Sampel: Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk dianalisis.
Pilih sampel yang representatif, yaitu sampel yang karakteristiknya
mencerminkan karakteristik populasi.
Ada beberapa teknik pengambilan sampel
yang bisa digunakan, seperti:
a)
Simple Random
Sampling: Setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk
dipilih.
b)
Stratified
Random Sampling: Populasi dibagi menjadi beberapa strata (kelompok), dan
kemudian diambil sampel dari setiap strata.
c)
Systematic
Random Sampling: Sampel diambil secara teratur dari daftar populasi dengan
interval tertentu.
d)
Cluster Random
Sampling: Populasi dibagi menjadi beberapa klaster (kelompok), dan
kemudian dipilih beberapa klaster secara acak untuk menjadi sampel.
e)
Nonprobability
Sampling: Teknik ini tidak memberikan kesempatan yang sama bagi setiap
anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel, contohnya purposive sampling,
accidental sampling, snowball sampling, dan quota sampling.
4)
Menentukan
Ukuran Sampel
Ukuran sampel yang
tepat tergantung pada beberapa faktor, seperti:
a)
Tujuan
penelitian: Semakin presisi tujuan
penelitian, semakin besar ukuran sampel yang dibutuhkan.
b)
Tingkat kepercayaan: Tingkat kepercayaan yang lebih tinggi memerlukan ukuran
sampel yang lebih besar.
c)
Margin of
error: Margin of error yang lebih kecil memerlukan
ukuran sampel yang lebih besar.
d)
Ketersediaan
sumber daya: Waktu, biaya, dan tenaga yang
tersedia akan memengaruhi ukuran sampel yang dapat diambil.
Rumus Slovin dapat digunakan untuk menghitung ukuran sampel jika
ukuran populasi diketahui.
Jika populasi tidak diketahui, formula berbasis tingkat
kepercayaan, proporsi, dan margin of error dapat digunakan.
5)
Melakukan
Analisis Sampel: Setelah sampel diambil, lakukan analisis data untuk menguji
hipotesis atau menjawab pertanyaan penelitian. Hasil analisis sampel
dapat digeneralisasi untuk menggambarkan populasi secara keseluruhan, dengan
asumsi bahwa sampel representatif.
C. Probability Sampling
Probability sampling adalah metode pengambilan
sampel di mana setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih
menjadi sampel. Metode ini menggunakan prinsip acak untuk memastikan
representasi yang adil dari populasi dalam sampel yang diambil.
Teknik ini disebut juga sebagai random sample.
Biasanya ia digunakan untuk memastikan agar setiap elemen populasi mendapatkan
kesempatan yang sama untuk menjadi bagian. Probability sampling pada
umumnya memiliki hasil yang lebih objektif. Terdapat lima macam teknik yang
bisa kamu gunakan, berikut penjelasannya.
Contoh Probability Sampling:
1. Simple Random Sampling: Menggunakan metode acak sederhana seperti undian atau generator angka acak untuk memilih sampel. Contohnya, memilih 100 siswa secara acak dari seluruh siswa di sebuah sekolah.
Simple random sampling atau pengambilan sampel acak sederhana adalah teknik penarikan sampel yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anggota populasi. Cara pengambilannya menggunakan nomor undian. Jika kamu ingin menggunakan teknik ini, pastikan kamu telah memiliki daftar nama populasi terlebih dahulu. Contohnya, kamu ingin mengambil 20 sampel dari 50 orang. Setelah membuat undian, ambil untuk sampel pertama. Kemudian nama tersebut kembalikan lagi, dan ambil undian sampel kedua. Ini untuk menjaga agar probabilitas tetap sama.
2. Stratified Random Sampling: Membagi populasi menjadi beberapa strata (kelompok) berdasarkan karakteristik tertentu (seperti usia, jenis kelamin, atau tingkat pendidikan), kemudian mengambil sampel acak dari setiap strata. Contohnya, jika ingin mengetahui pendapat siswa tentang kurikulum baru, dapat dibagi populasi menjadi beberapa strata (misalnya, siswa kelas 10, 11, 12), lalu mengambil sampel acak dari setiap strata tersebut.
Dengan metode ini, pengambilan sampel tidak seacak
sebelumnya. Teknik dilakukan dengan menggunakan interval dalam memilih sampel
penelitian. Langkah pertama adalah mengurutkan populasi terlebih dahulu.
Kemudian cari interval dengan membagi jumlah populasi dengan sampel yang
dibutuhkan
Misalnya, populasi yang diincar berjumlah 50 orang. Kita ingin mengambil sampel 10 saja. Untuk menentukan intervalnya, 50 orang populasi dibagi 10 orang untuk sampel. Hasilnya adalah 5. Berarti sampel yang kita ambil adalah urutan ke-5, 10, 15, dan seterusnya.
3. Cluster Sampling: Membagi populasi menjadi beberapa kelompok atau cluster, lalu secara acak memilih beberapa cluster untuk dijadikan sampel. Contohnya, untuk meneliti pendapat warga tentang kebijakan pemerintah, dapat membagi wilayah menjadi beberapa cluster (seperti RT/RW), lalu memilih beberapa cluster secara acak dan mewawancarai semua warga di cluster yang terpilih.
Stratified random sampling atau
sampel acak berstrata didasarkan pada tingkatan tertentu. Awalnya, peneliti
harus mengetahui kesamaan dan perbedaan karakter yang dimiliki oleh populasi.
Misalnya, peneliti ingin melihat tingkat kesejahteraan di kantor A. Ia dapat
membagi kelompok menjadi karyawan, manajer tingkat menengah, dan tingkat atas.
4.
Systematic
Sampling: Memilih sampel dengan interval tertentu setelah anggota pertama
dipilih secara acak. Contohnya, jika ada daftar nama siswa, kemudian siswa
pertama dipilih secara acak, selanjutnya setiap siswa ke-5 dalam daftar akan
menjadi sampel.
Semua metode ini memastikan bahwa setiap elemen populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi ke populasi secara keseluruhan.
Pengambilan
sampel kluster dilakukan dengan cara membagi populasi ke dalam beberapa
kelompok. Pembagian dapat didasarkan pada lokasi, usia, jenis kelamin, dan kategori
lain yang setara. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
a)
Single stage cluster:
peneliti secara acak menentukan kelompok mana yang menjadi sampel, sehingga ada
beberapa kelompok yang tidak mendapatkan kesempatan
b)
Two stage cluster:
peneliti harus memilih kelompok secara acak terlebih dahulu, kemudian menarik
sampel random darinya
c)
Systematic clustering: mirip
dengan systematic random sampling, semua elemen diurutkan kemudian
diambil berdasarkan interval.
5.
Multi Stage
Sampling
Metode ini adalah
gabungan antara stratified, cluster, dan simple random
sampling. Biasanya multi stage sampling dilakukan kepada populasi
yang jumlahnya sangat besar. Contoh penggunaannya adalah pada sensus penduduk.
Berikut ini langkah-langkahnya:
a)
Bagi populasi
menjadi beberapa kelompok;
b)
Bagi lagi
kelompok menjadi sub-kelompok (strata) berdasarkan kesamaan yang dimiliki;
c)
Proses
pembagian dapat dilakukan hingga lebih dari tiga kali;
Setelahnya peneliti dapat menarik sampel dari setiap kelompok
D.
Non Probability Sampling
Berbeda dengan metode sebelumnya, non-probability
sampling lebih bergantung pada kemampuan dan batasan peneliti dalam menarik
sampel. Misalnya, ketika peneliti tidak memiliki daftar nama dari populasi,
atau mungkin data yang mereka pegang tidak akurat. Walaupun lebih fleksibel dan
nyaman, terkadang hasil dari metode ini mengandung bias penelitian. Ada
beberapa teknik non-probability sampling, berikut penjelasannya.
Non-probability sampling adalah teknik pengambilan
sampel di mana tidak semua anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk
dipilih. Pemilihan sampel seringkali didasarkan pada pertimbangan subjektif
peneliti, bukan secara acak. Contohnya adalah purposive sampling (sampel
bertujuan) dan accidental sampling (sampel tidak sengaja).
Non-probability sampling: Teknik pengambilan
sampel di mana setiap anggota populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk
menjadi sampel. Peneliti menggunakan kriteria non-acak seperti ketersediaan,
kedekatan geografis, atau pengetahuan ahli.
Contoh:
1. Purposive sampling: Peneliti memilih sampel berdasarkan kriteria atau tujuan tertentu yang relevan dengan penelitian, seperti memilih responden yang memiliki pengalaman tertentu terkait topik penelitian.
Purposive sampling adalah teknik
non-probabilitas yang sering digunakan karena kemudahannya. Langkah awal yang
harus dilakukan adalah menentukan kriteria sampel yang sesuai dengan
penelitian.
Contohnya, kita ingin meneliti penyakit kanker serviks. Kriteria terdiri dari pasien kanker serviks, rentang usia misal 18-30 tahun, serta sudah memiliki suami. Pastikan semua sampel memenuhi kriteria tersebut agar penelitian lebih valid.
2. Accidental sampling: Peneliti memilih sampel secara kebetulan, misalnya dengan mensurvei orang yang ditemuinya di suatu tempat.
Teknik penarikan sampel
ini biasanya dilakukan tanpa sengaja. Cara ini cocok untuk penelitian yang
sifatnya umum.
Misalnya mengukur kepuasan
warga Jakarta kepada fasilitas transportasi. Jadi peneliti bisa berjaga di
sekitar stasiun dan halte kemudian menanyai orang-orang yang menggunakan
fasilitas tersebut.
Accidental sampling juga cocok untuk mendapatkan sampel yang langka. Misalnya, peneliti ingin mengetahui penyakit lupus yang jarang diderita orang.
3. Quota sampling: Peneliti menetapkan kuota atau jumlah sampel untuk setiap kategori dalam populasi, lalu memilih sampel secara non-acak untuk memenuhi kuota tersebut.
Quota sampling bergantung pada
kuota yang sudah ditentukan sebelumnya. Peneliti cukup menentukan sampel yang
menurutnya representatif. Selain itu, proporsi dari jenis data tertentu perlu
juga untuk dipertimbangkan. Misalnya populasi berjumlah 100 orang yang terdiri
dari 40 persen wanita dan 60 persen laki-laki. Peneliti menentukan kuota
sebanyak 10 orang. Proporsi jenis kelamin harus setara, jadi sampel terdiri
dari 4 wanita dan 6 laki-laki.
4. Snowball sampling: Peneliti meminta responden pertama untuk merekomendasikan responden lain yang memiliki karakteristik serupa, sehingga sampel dapat ditemukan secara bertahap.
Snowball
sampling dikenal pula dengan sebutan bola salju. Cara melakukannya adalah
dengan menemukan sampel pertama, kemudian meminta rekomendasi sampel berikutnya
kepada orang tersebut. Begitu pula dengan selanjutnya hingga kebutuhan survei
terpenuhi.
Biasanya snowball sampling digunakan untuk penelitian
mengenai hal sensitif dan menyangkut privasi sehingga sulit untuk menemukan
sampel yang mau terlibat. Contohnya, penelitian tentang penderita HIV, kaum
waria, transgender, dan lainnya.
Pentingnya Non-probability sampling berguna untuk penelitian
eksploratif atau studi pendahuluan, atau ketika peneliti ingin meneliti
kelompok yang sulit dijangkau.
Tabel
Perbedaan Probability Sampling dengan Non
Probability Sampling
|
Unsur |
Probality Sampling |
Non Probality Sampling |
|
Metode |
Menggunakan metode
acak (random) seperti simple random sampling, systematic sampling, stratified
sampling, dan cluster sampling |
Tidak menggunakan
metode acak, melainkan bergantung pada pertimbangan peneliti atau
faktor-faktor lain |
|
Peluang Terpilih |
Setiap anggota
populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi sampel. |
Tidak semua anggota
populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih. |
|
Biaya dan Waktu |
Lebih Mahal dan
Lebih Lama |
Lebih Murah dan
Lebih Cepat |
|
Akurasi dan
Penerimaan Hasil |
Lebih tepat dan
Penerimaan bersifat Universal |
Kurang Tepat dan
Penerimaan Masuk Akal |
|
Generalisasi |
Hasil penelitian
dapat digeneralisasi ke populasi yang lebih luas dengan tingkat kepercayaan
yang tinggi. |
Hasil penelitian
tidak dapat digeneralisasi ke populasi secara luas |
|
Waktu Penggunaan |
Digunakan ketika
penelitian bertujuan untuk menghasilkan generalisasi ke populasi yang lebih
luas. |
Digunakan ketika
penelitian memiliki tujuan eksplorasi, pengujian hipotesis, atau ketika tidak
memungkinkan untuk melakukan probability sampling |
|
Contoh |
a.
Simple random sampling: Menentukan
sampel secara acak dari daftar populasi. b.
Systematic sampling: Memilih
sampel berdasarkan interval atau jarak tertentu. c.
Stratified sampling: Membagi
populasi menjadi kelompok dan memilih sampel secara acak dari setiap
kelompok. d.
Cluster sampling: Membagi
populasi menjadi kelompok dan memilih seluruh anggota dari beberapa kelompok
tertentu. |
a.
Convenience sampling: Memilih
sampel yang mudah diakses oleh peneliti. b.
Purposive sampling: Memilih
sampel dengan karakteristik tertentu yang diinginkan oleh peneliti. c.
Quota sampling: Memilih
sampel berdasarkan kuota tertentu dalam setiap kelompok. d.
Snowball sampling: Memilih
sampel dengan menggunakan rujukan dari sampel yang sudah ada |
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto,
S. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara.
Bennett,
N., Borg, W. R., & Gall, M. D. (1984). Educational Research: An
Introduction. British Journal of Educational Studies, 32(3), 274.
https://doi.org/10.2307/3121583
Emzir.
2009. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Kasiram,
Mohammad. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Malang: UIN Malang
Lubis.
A.Y, (2014) Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Muslim.
(2016). Varian-Varian Paradigma, Pendekatan, Metode, Dan Jenis Penelitian Dalam
Ilmu Komunikas I, Wahana, Vol. 1, No. 10, Ganjil, 78-79
Sugiyono.
2019. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta
Sudjana,
N. dan Ibrahim, R. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar
Baru Algesindo.
Suharsimi
Arikunto. 2019. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.
Suparlan
Suhartono. 2008. Wawasan pendidikan: Sebuah pengantar pendidikan. Yogyakarta:
Ar-Ruzzmedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar