KEBIJAKAN FISKAL
1.
PENGERTIAN
KEBIJAKAN FISKAL
Kebijakan fiskal
adalah kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah untuk mengatur penerimaan
dan pengeluaran negara guna mempengaruhi kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
Ini mencakup keputusan mengenai pajak, belanja pemerintah, utang publik, dan instrumen
pendanaan lainnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,
pengendalian inflasi, pemerataan pendapatan, dan pengurangan pengangguran
(Britannica, 2026; OCBC, 2023).
Contoh praktik kebijakan
fiskal: (1)Menetapkan tarif pajak, (2)Menentukan anggaran belanja negara, (3)Memutuskan
pinjaman atau penerbitan obligasi negara.
2.
MACAM-MACAM
KEBIJAKAN FISKAL
Kebijakan fiskal
dapat dibedakan menurut beberapa aspek:
1.
Menurut teori
a.
Kebijakan fiskal
fungsional – fokus pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan kesempatan
kerja.
b.
Kebijakan fiskal
yang disengaja/terencana – dirancang untuk merespon masalah ekonomi tertentu
seperti resesi atau krisis.
c.
Kebijakan fiskal
insidental – keputusan fiskal yang muncul sebagai respons tak terencana
terhadap kondisi ekonomi.
2.
Menurut
tujuannya
a.
Kebijakan
ekspansif – memperbesar belanja atau menurunkan pajak untuk mendorong
pertumbuhan.
b.
Kebijakan
kontraktif – mengurangi belanja atau menaikkan pajak untuk menekan inflasi dan
mengendalikan defisit
3.
MENINGKATKAN
PUNGUTAN PAJAK
Meningkatkan
pungutan pajak adalah salah satu instrumen kebijakan fiskal yang digunakan
pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara. Tarif pajak dapat dinaikkan
ketika pemerintah ingin menutup defisit anggaran atau mengendalikan permintaan
agregat di tengah tekanan inflasi. Peningkatan pajak dapat membantu pembiayaan
program publik seperti infrastruktur dan layanan sosial, serta memperkecil
ketergantungan pada utang.
4.
MENERBITKAN
OBLIGASI
Penerbitan
obligasi merupakan salah satu cara pemerintah meminjam dana dari masyarakat
atau investor untuk membiayai belanja negara ketika penerimaan pajak tidak
mencukupi. Obligasi negara memiliki tingkat bunga tetap yang dibayar kembali
oleh pemerintah kepada pemegang obligasi pada jangka waktu tertentu. Ini adalah
bentuk pembiayaan defisit anggaran tanpa harus menaikkan pajak secara langsung.
5.
PINJAMAN/UTANG
DALAM NEGERI DAN LUAR NEGERI
Utang pemerintah
adalah kewajiban finansial negara kepada pihak lain yang timbul akibat
pembiayaan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam teori
ekonomi publik, utang digunakan ketika penerimaan negara (pajak dan penerimaan
lainnya) tidak mencukupi untuk membiayai pengeluaran pemerintah (Mankiw, 2019).
Menurut
International Monetary Fund (2022), utang publik merupakan instrumen fiskal
untuk:
a.
Menutup defisit
anggaran
b.
Membiayai
pembangunan
c.
Menstabilkan
perekonomian saat krisis
Ketika
pendapatan negara dari pajak dan obligasi tidak cukup menutup kebutuhan
belanja, pemerintah dapat mengambil pinjaman:
a.
Utang dalam
negeri yakni meminjam dari institusi domestik atau pasar domestik.
Utang dalam
negeri adalah pinjaman yang diperoleh pemerintah dari kreditur atau investor
domestik, baik individu, bank, maupun lembaga keuangan yang berada di dalam
negara.
Dalam konteks
Indonesia, pengelolaan utang diatur oleh Kementerian Keuangan Republik
Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko.
Bentuk Utang
Dalam Negeri: Surat Berharga Negara
(SBN). Meliputi: Obligasi Negara (ORI), Sukuk Negara, Surat Perbendaharaan
Negara (SPN). Contoh: Pemerintah Indonesia menerbitkan ORI yang dibeli oleh
masyarakat Indonesia sebagai instrumen investasi sekaligus pembiayaan APBN. Pinjaman
dari Perbankan Domestik. Pemerintah dapat memperoleh pembiayaan dari bank-bank
nasional. Contoh Nyata Utang Dalam Negeri Indonesia. Pada masa pandemi COVID-19
(2020), pemerintah Indonesia meningkatkan penerbitan Surat Berharga Negara
(SBN) yang sebagian besar dibeli oleh investor domestik dan perbankan nasional.
Bahkan Bank Indonesia turut membeli SBN dalam skema burden sharing untuk
menjaga stabilitas ekonomi. Kelebihan Utang Dalam Negeri: Tidak menimbulkan
risiko nilai tukar, Bunga dibayarkan kepada masyarakat sendiri, Lebih mudah
dikendalikan secara kebijakan.
Kekurangan: Dapat
menekan likuiditas domestic. Potensi crowding out (mengurangi investasi swasta)(Mankiw,
2019)
b.
Utang luar
negeri – meminjam dari pemberi pinjaman internasional (mis. bank dunia, IMF).
Utang ini harus dikelola hati-hati agar tidak membebani perekonomian jangka
panjang.
Pinjaman ini
merupakan bagian dari pembiayaan defisit anggaran. Di sisi positif, dapat
membantu pembiayaan pembangunan; namun, kelemahannya adalah beban bunga dan
kewajiban pembayaran kembali yang dapat membatasi ruang fiskal negara.
Utang luar
negeri adalah pinjaman yang diperoleh pemerintah dari pihak asing, baik negara
lain, lembaga internasional, maupun investor global.
Menurut World
Bank (2022), utang luar negeri sering digunakan negara berkembang untuk: Pembangunan
infrastruktur, Pembiayaan proyek sosial, Menutup defisit transaksi berjalan.
Sumber Utang
Luar Negeri: Lembaga Internasional, International Monetary Fund, World Bank, Asian
Development Bank (ADB), Pemerintah Negara Lain (Bilateral Loan), Pasar Keuangan
Global, Melalui penerbitan Global Bonds dalam mata uang asing (USD, EUR, JPY).
6.
PRIVATISASI
Privatisasi
adalah kebijakan ekonomi di mana pemerintah mentransfer kepemilikan atau
pengelolaan aset/entitas milik negara ke sektor swasta. Tujuannya biasanya
untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi beban fiskal pemerintah,
serta mendorong pertumbuhan investasi swasta.
Contoh
privatisasi: (1)Penjualan BUMN kepada investor swasta, (2)Outsourcing layanan
publik kepada perusahaan swasta.
Privatisasi
dapat membantu mengurangi beban utang negara karena aset publik dijual dan dana
hasil penjualan dapat digunakan untuk membayar utang atau pembiayaan
pembangunan.
7.
MENCETAK UANG
Istilah mencetak
uang sering digunakan untuk menggambarkan tindakan menambah jumlah uang beredar
di perekonomian oleh bank sentral atau melalui kebijakan monetisasi utang (debt
monetization). Secara teknis, ini adalah bagian dari kebijakan moneter — namun,
dalam beberapa kondisi fiskal, penambahan uang beredar ini bisa dilakukan untuk
menutup kekurangan pembiayaan negara (misalnya ketika pinjaman dan pajak tidak
cukup).
Konsep ini
mencakup:
(1)
Quantitative easing
a.
Pengertian Quantitative easing
Quantitative
easing yaitu: bank sentral membeli aset atau utang untuk menambah likuiditas.
Quantitative
easing (QE) adalah kebijakan moneter tidak konvensional di mana bank sentral
membeli aset keuangan skala besar—biasanya obligasi pemerintah dan surat
berharga lainnya—untuk meningkatkan jumlah uang beredar dan menurunkan suku
bunga jangka panjang ketika suku bunga acuan sudah mendekati nol (zero lower
bound) (Federal Reserve, 2020; International Monetary Fund, 2020).
QE bertujuan
untuk:
1)
Meningkatkan
likuiditas sistem keuangan;
2)
Menurunkan biaya
pinjaman
3)
Mendorong
konsumsi dan investasi
4)
Menghindari
deflasi saat krisis ekonomi
Menurut
Macroeconomics, kebijakan ini bekerja melalui transmisi suku bunga dan
ekspektasi pasar terhadap kondisi ekonomi masa depan.
b.
Mekanisme
Quantitative Easing
Secara
sederhana, proses QE adalah:
1)
Bank sentral
menciptakan cadangan uang baru (secara digital).
2)
Uang tersebut
digunakan untuk membeli obligasi pemerintah atau aset keuangan dari bank dan
lembaga keuangan.
3)
Harga obligasi
naik → imbal hasil (yield) turun.
4)
Suku bunga
jangka panjang turun → investasi dan konsumsi meningkat.
5)
Transmisi ini
dikenal sebagai portfolio rebalancing channel (Bernanke, 2012).
c.
Contoh Quantitative Easing
1)
Amerika Serikat
(2008–2014) : Saat krisis keuangan global 2008, Federal Reserve meluncurkan
beberapa tahap QE (QE1, QE2, QE3) dengan membeli: Obligasi pemerintah AS
(Treasuries) Mortgage-backed securities (MBS) Nilainya mencapai lebih dari USD
3 triliun. Tujuannya adalah memulihkan sistem keuangan dan mencegah resesi
lebih dalam (Bernanke, 2012).
2)
Zona Euro: European
Central Bank menerapkan QE pada 2015 untuk mengatasi krisis utang dan inflasi
rendah di kawasan Eropa.
d.
Dampak QE
|
Dampak Positif |
Dampak Negatif |
|
a.
Menurunkan suku bunga jangka panjang b.
Meningkatkan harga asset c.
Mendorong pemulihan ekonomi |
a.
Risiko inflasi jika berlebihan b.
Meningkatkan ketimpangan (karena harga aset naik) c.
Potensi gelembung aset |
Sumber: (IMF, 2020)
a.
Pengertian Monetisasi utang yaitu
bank sentral membeli surat utang negara secara langsung dan menciptakan uang
baru.
Monetisasi utang adalah kondisi ketika bank sentral secara langsung
membiayai defisit pemerintah dengan membeli surat utang negara dan menciptakan
uang baru untuk itu (Sargent & Wallace, 1981).
b.
Perbedaan
Quantitative Easing (QE) dengan Monetisasi Utang (MU)
|
QE |
Monetisasi Utang |
|
Fokus stabilitas moneter |
Fokus pembiayaan defisit fiskal |
|
Biasanya sementara |
Bisa bersifat struktural |
|
Dilakukan di pasar sekunder |
Bisa langsung membeli dari pemerintah |
Menurut International Monetary Fund
(2020), monetisasi utang memiliki risiko inflasi lebih tinggi dibanding QE.
c.
Mekanisme
Monetisasi Utang
1)
Pemerintah
mengalami defisit anggaran.
2)
Pemerintah
menerbitkan obligasi.
3)
Bank sentral
membeli obligasi tersebut secara langsung.
4)
Bank sentral
menciptakan uang baru untuk membiayai pembelian itu.
5)
Jika dilakukan
terus-menerus tanpa peningkatan produksi, dapat menyebabkan inflasi tinggi.
d.
Contoh
Monetisasi Utang
1)
Indonesia (2020
– Skema Burden Sharing: Pada masa
pandemi COVID-19, Bank Indonesia membeli Surat Berharga Negara (SBN) untuk
membantu pembiayaan APBN dalam skema burden sharing dengan Kementerian Keuangan
Republik Indonesia. Walaupun secara
formal disebut pembelian di pasar perdana untuk stabilitas sistem keuangan,
secara teori hal ini mendekati praktik monetisasi utang karena bank sentral
mendanai defisit fiskal.
2)
Zimbabwe
(Hipoinflasi): Kasus ekstrem
terjadi di Zimbabwe pada 2000-an, ketika pembiayaan defisit melalui pencetakan
uang menyebabkan hiperinflasi sangat tinggi (IMF, 2009).
d. Risiko Monetisasi Utang
1)
Inflasi tinggi
2)
Hilangnya
kepercayaan terhadap mata uang
3)
Depresiasi nilai
tukar
4)
Krisis ekonomi
Sargent dan
Wallace (1981) dalam teori Unpleasant Monetarist Arithmetic menjelaskan bahwa
pembiayaan defisit melalui pencetakan uang dalam jangka panjang hampir pasti
menghasilkan inflasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar