Jumat, 13 Maret 2026

KEBIJAKAN FISKAL

 

KEBIJAKAN FISKAL

Eny Latifah,S.E.Sy.,M.Ak

 

 

1.      PENGERTIAN KEBIJAKAN FISKAL

Kebijakan fiskal adalah kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah untuk mengatur penerimaan dan pengeluaran negara guna mempengaruhi kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Ini mencakup keputusan mengenai pajak, belanja pemerintah, utang publik, dan instrumen pendanaan lainnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pengendalian inflasi, pemerataan pendapatan, dan pengurangan pengangguran (Britannica, 2026; OCBC, 2023).

Contoh praktik kebijakan fiskal: (1)Menetapkan tarif pajak, (2)Menentukan anggaran belanja negara, (3)Memutuskan pinjaman atau penerbitan obligasi negara.

2.      MACAM-MACAM KEBIJAKAN FISKAL

Kebijakan fiskal dapat dibedakan menurut beberapa aspek:

1.      Menurut teori

a.      Kebijakan fiskal fungsional – fokus pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan kesempatan kerja.

b.      Kebijakan fiskal yang disengaja/terencana – dirancang untuk merespon masalah ekonomi tertentu seperti resesi atau krisis.

c.       Kebijakan fiskal insidental – keputusan fiskal yang muncul sebagai respons tak terencana terhadap kondisi ekonomi.

2.      Menurut tujuannya

a.      Kebijakan ekspansif – memperbesar belanja atau menurunkan pajak untuk mendorong pertumbuhan.

b.      Kebijakan kontraktif – mengurangi belanja atau menaikkan pajak untuk menekan inflasi dan mengendalikan defisit

3.      MENINGKATKAN PUNGUTAN PAJAK

Meningkatkan pungutan pajak adalah salah satu instrumen kebijakan fiskal yang digunakan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara. Tarif pajak dapat dinaikkan ketika pemerintah ingin menutup defisit anggaran atau mengendalikan permintaan agregat di tengah tekanan inflasi. Peningkatan pajak dapat membantu pembiayaan program publik seperti infrastruktur dan layanan sosial, serta memperkecil ketergantungan pada utang.

4.      MENERBITKAN OBLIGASI

Penerbitan obligasi merupakan salah satu cara pemerintah meminjam dana dari masyarakat atau investor untuk membiayai belanja negara ketika penerimaan pajak tidak mencukupi. Obligasi negara memiliki tingkat bunga tetap yang dibayar kembali oleh pemerintah kepada pemegang obligasi pada jangka waktu tertentu. Ini adalah bentuk pembiayaan defisit anggaran tanpa harus menaikkan pajak secara langsung.

5.      PINJAMAN/UTANG DALAM NEGERI DAN LUAR NEGERI

Utang pemerintah adalah kewajiban finansial negara kepada pihak lain yang timbul akibat pembiayaan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam teori ekonomi publik, utang digunakan ketika penerimaan negara (pajak dan penerimaan lainnya) tidak mencukupi untuk membiayai pengeluaran pemerintah (Mankiw, 2019).

Menurut International Monetary Fund (2022), utang publik merupakan instrumen fiskal untuk:

a.      Menutup defisit anggaran

b.      Membiayai pembangunan

c.       Menstabilkan perekonomian saat krisis

Ketika pendapatan negara dari pajak dan obligasi tidak cukup menutup kebutuhan belanja, pemerintah dapat mengambil pinjaman:

a.      Utang dalam negeri yakni meminjam dari institusi domestik atau pasar domestik.

Utang dalam negeri adalah pinjaman yang diperoleh pemerintah dari kreditur atau investor domestik, baik individu, bank, maupun lembaga keuangan yang berada di dalam negara.

Dalam konteks Indonesia, pengelolaan utang diatur oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko.

Bentuk Utang Dalam Negeri:  Surat Berharga Negara (SBN). Meliputi: Obligasi Negara (ORI), Sukuk Negara, Surat Perbendaharaan Negara (SPN). Contoh: Pemerintah Indonesia menerbitkan ORI yang dibeli oleh masyarakat Indonesia sebagai instrumen investasi sekaligus pembiayaan APBN. Pinjaman dari Perbankan Domestik. Pemerintah dapat memperoleh pembiayaan dari bank-bank nasional. Contoh Nyata Utang Dalam Negeri Indonesia. Pada masa pandemi COVID-19 (2020), pemerintah Indonesia meningkatkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang sebagian besar dibeli oleh investor domestik dan perbankan nasional. Bahkan Bank Indonesia turut membeli SBN dalam skema burden sharing untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kelebihan Utang Dalam Negeri: Tidak menimbulkan risiko nilai tukar, Bunga dibayarkan kepada masyarakat sendiri, Lebih mudah dikendalikan secara kebijakan.

Kekurangan: Dapat menekan likuiditas domestic. Potensi crowding out (mengurangi investasi swasta)(Mankiw, 2019)

b.      Utang luar negeri – meminjam dari pemberi pinjaman internasional (mis. bank dunia, IMF). Utang ini harus dikelola hati-hati agar tidak membebani perekonomian jangka panjang.

Pinjaman ini merupakan bagian dari pembiayaan defisit anggaran. Di sisi positif, dapat membantu pembiayaan pembangunan; namun, kelemahannya adalah beban bunga dan kewajiban pembayaran kembali yang dapat membatasi ruang fiskal negara.

Utang luar negeri adalah pinjaman yang diperoleh pemerintah dari pihak asing, baik negara lain, lembaga internasional, maupun investor global.

Menurut World Bank (2022), utang luar negeri sering digunakan negara berkembang untuk: Pembangunan infrastruktur, Pembiayaan proyek sosial, Menutup defisit transaksi berjalan.

Sumber Utang Luar Negeri: Lembaga Internasional, International Monetary Fund, World Bank, Asian Development Bank (ADB), Pemerintah Negara Lain (Bilateral Loan), Pasar Keuangan Global, Melalui penerbitan Global Bonds dalam mata uang asing (USD, EUR, JPY).

6.      PRIVATISASI

Privatisasi adalah kebijakan ekonomi di mana pemerintah mentransfer kepemilikan atau pengelolaan aset/entitas milik negara ke sektor swasta. Tujuannya biasanya untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi beban fiskal pemerintah, serta mendorong pertumbuhan investasi swasta.

Contoh privatisasi: (1)Penjualan BUMN kepada investor swasta, (2)Outsourcing layanan publik kepada perusahaan swasta.

Privatisasi dapat membantu mengurangi beban utang negara karena aset publik dijual dan dana hasil penjualan dapat digunakan untuk membayar utang atau pembiayaan pembangunan.

7.      MENCETAK UANG

Istilah mencetak uang sering digunakan untuk menggambarkan tindakan menambah jumlah uang beredar di perekonomian oleh bank sentral atau melalui kebijakan monetisasi utang (debt monetization). Secara teknis, ini adalah bagian dari kebijakan moneter — namun, dalam beberapa kondisi fiskal, penambahan uang beredar ini bisa dilakukan untuk menutup kekurangan pembiayaan negara (misalnya ketika pinjaman dan pajak tidak cukup).

Konsep ini mencakup:

(1)   Quantitative easing

a.      Pengertian Quantitative easing

Quantitative easing yaitu: bank sentral membeli aset atau utang untuk menambah likuiditas.

Quantitative easing (QE) adalah kebijakan moneter tidak konvensional di mana bank sentral membeli aset keuangan skala besar—biasanya obligasi pemerintah dan surat berharga lainnya—untuk meningkatkan jumlah uang beredar dan menurunkan suku bunga jangka panjang ketika suku bunga acuan sudah mendekati nol (zero lower bound) (Federal Reserve, 2020; International Monetary Fund, 2020).

QE bertujuan untuk:

1)      Meningkatkan likuiditas sistem keuangan;

2)      Menurunkan biaya pinjaman

3)      Mendorong konsumsi dan investasi

4)      Menghindari deflasi saat krisis ekonomi

Menurut Macroeconomics, kebijakan ini bekerja melalui transmisi suku bunga dan ekspektasi pasar terhadap kondisi ekonomi masa depan.

b.      Mekanisme Quantitative Easing

Secara sederhana, proses QE adalah:

1)      Bank sentral menciptakan cadangan uang baru (secara digital).

2)      Uang tersebut digunakan untuk membeli obligasi pemerintah atau aset keuangan dari bank dan lembaga keuangan.

3)      Harga obligasi naik imbal hasil (yield) turun.

4)      Suku bunga jangka panjang turun investasi dan konsumsi meningkat.

5)      Transmisi ini dikenal sebagai portfolio rebalancing channel (Bernanke, 2012).

c.       Contoh Quantitative Easing

1)      Amerika Serikat (2008–2014) : Saat krisis keuangan global 2008, Federal Reserve meluncurkan beberapa tahap QE (QE1, QE2, QE3) dengan membeli: Obligasi pemerintah AS (Treasuries) Mortgage-backed securities (MBS) Nilainya mencapai lebih dari USD 3 triliun. Tujuannya adalah memulihkan sistem keuangan dan mencegah resesi lebih dalam (Bernanke, 2012).

2)      Zona Euro: European Central Bank menerapkan QE pada 2015 untuk mengatasi krisis utang dan inflasi rendah di kawasan Eropa.

d.     Dampak QE

Dampak Positif

Dampak Negatif

a.      Menurunkan suku bunga jangka panjang

b.      Meningkatkan harga asset

c.       Mendorong pemulihan ekonomi

a.      Risiko inflasi jika berlebihan

b.      Meningkatkan ketimpangan (karena harga aset naik)

c.       Potensi gelembung aset

Sumber: (IMF, 2020)

(2)   Monetisasi utang

a.      Pengertian Monetisasi utang  yaitu bank sentral membeli surat utang negara secara langsung dan menciptakan uang baru.

Monetisasi utang adalah kondisi ketika bank sentral secara langsung membiayai defisit pemerintah dengan membeli surat utang negara dan menciptakan uang baru untuk itu (Sargent & Wallace, 1981).

b.      Perbedaan Quantitative Easing (QE) dengan Monetisasi Utang (MU)

QE

Monetisasi Utang

Fokus stabilitas moneter

Fokus pembiayaan defisit fiskal

Biasanya sementara

Bisa bersifat struktural

Dilakukan di pasar sekunder

Bisa langsung membeli dari pemerintah

Menurut International Monetary Fund (2020), monetisasi utang memiliki risiko inflasi lebih tinggi dibanding QE.

c.       Mekanisme Monetisasi Utang

1)      Pemerintah mengalami defisit anggaran.

2)      Pemerintah menerbitkan obligasi.

3)      Bank sentral membeli obligasi tersebut secara langsung.

4)      Bank sentral menciptakan uang baru untuk membiayai pembelian itu.

5)      Jika dilakukan terus-menerus tanpa peningkatan produksi, dapat menyebabkan inflasi tinggi.

d.      Contoh Monetisasi Utang

1)      Indonesia (2020 – Skema Burden Sharing: Pada masa pandemi COVID-19, Bank Indonesia membeli Surat Berharga Negara (SBN) untuk membantu pembiayaan APBN dalam skema burden sharing dengan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Walaupun secara formal disebut pembelian di pasar perdana untuk stabilitas sistem keuangan, secara teori hal ini mendekati praktik monetisasi utang karena bank sentral mendanai defisit fiskal.

2)      Zimbabwe (Hipoinflasi): Kasus ekstrem terjadi di Zimbabwe pada 2000-an, ketika pembiayaan defisit melalui pencetakan uang menyebabkan hiperinflasi sangat tinggi (IMF, 2009).

d. Risiko Monetisasi Utang

1)      Inflasi tinggi

2)      Hilangnya kepercayaan terhadap mata uang

3)      Depresiasi nilai tukar

4)      Krisis ekonomi

Sargent dan Wallace (1981) dalam teori Unpleasant Monetarist Arithmetic menjelaskan bahwa pembiayaan defisit melalui pencetakan uang dalam jangka panjang hampir pasti menghasilkan inflasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGUATKAN KOMUNITAS FILANTROPI ISLAM BERBASIS MEDIA SOSIAL DALAM MENDORONG KESADARAN BERDERMA

  MENGUATKAN KOMUNITAS FILANTROPI ISLAM BERBASIS MEDIA SOSIAL DALAM MENDORONG KESADARAN BERDERMA     1.        PENGERTIAN KOMUNITAS FI...